Finance and Accounting Training Series

Training PSAK 118: Transformasi Struktur Laporan Laba Rugi

Laporan keuangan merupakan salah satu instrumen penting yang digunakan perusahaan untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi keuangan, kinerja, dan arus kas kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi manajemen, investor, kreditur, pemegang saham, dan pengguna laporan keuangan lainnya dalam mengambil keputusan ekonomi.

Salah satu bagian laporan keuangan yang memiliki peran penting dalam menggambarkan kinerja perusahaan adalah laporan laba rugi. Laporan ini menyajikan informasi mengenai pendapatan, beban, serta hasil usaha perusahaan selama periode tertentu. Melalui laporan laba rugi, pengguna dapat memahami bagaimana perusahaan memperoleh pendapatan, mengelola biaya, dan menghasilkan laba atau mengalami kerugian.

Namun, penyajian laporan laba rugi yang kurang konsisten dapat menyulitkan pengguna dalam membandingkan kinerja antarperusahaan. Perbedaan pengelompokan pendapatan dan beban, penggunaan subtotal yang tidak seragam, serta penyajian informasi yang kurang terstruktur dapat memengaruhi keterbandingan laporan keuangan.

Untuk meningkatkan kualitas informasi tersebut, standar akuntansi keuangan terus mengalami perkembangan. Salah satu perubahan penting adalah diterbitkannya PSAK 118 tentang Penyajian dan Pengungkapan dalam Laporan Keuangan, yang mengadopsi IFRS 18 Presentation and Disclosure in Financial Statements. Standar ini menggantikan ketentuan penyajian laporan keuangan sebelumnya yang diatur dalam PSAK 201.

PSAK 118 membawa perubahan signifikan, terutama dalam struktur laporan laba rugi. Perubahan tersebut mencakup pengelompokan pendapatan dan beban ke dalam kategori tertentu, penyajian subtotal laba operasi dan laba sebelum pendanaan serta pajak penghasilan, serta pengungkapan ukuran kinerja yang ditentukan manajemen atau Management-defined Performance Measures (MPMs).

Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan format laporan keuangan. Perusahaan juga perlu mengevaluasi kebijakan akuntansi, sistem pelaporan, proses konsolidasi, pengelolaan data, dan komunikasi kinerja keuangan kepada para pemangku kepentingan.

Oleh karena itu, Training PSAK 118: Transformasi Struktur Laporan Laba Rugi menjadi program pembelajaran yang relevan bagi profesional keuangan dan akuntansi. Pelatihan ini membantu peserta memahami perubahan standar, menganalisis dampaknya terhadap laporan keuangan, serta mempersiapkan proses penerapan PSAK 118 secara terstruktur.

Mengenal PSAK 118 dan Latar Belakang Perubahannya

Pengertian PSAK 118

PSAK 118 merupakan standar akuntansi keuangan yang mengatur penyajian dan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan. Standar ini mengadopsi IFRS 18 yang diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB).

PSAK 118 dirancang untuk meningkatkan transparansi, keterbandingan, dan kegunaan informasi keuangan, khususnya dalam penyajian kinerja perusahaan melalui laporan laba rugi.

Salah satu fokus utama PSAK 118 adalah memperjelas bagaimana pendapatan dan beban dikelompokkan serta bagaimana subtotal kinerja disajikan. Dengan struktur yang lebih terorganisasi, pengguna laporan keuangan diharapkan dapat memahami sumber kinerja perusahaan secara lebih mudah.

Secara umum, perubahan PSAK 118 mencakup beberapa aspek penting:

  • Pengelompokan pendapatan dan beban ke dalam kategori operasi, investasi, pendanaan, pajak penghasilan, dan operasi yang dihentikan.
  • Penyajian subtotal laba operasi.
  • Penyajian subtotal laba sebelum pendanaan dan pajak penghasilan.
  • Pengaturan pengungkapan ukuran kinerja yang ditentukan manajemen.
  • Penguatan prinsip agregasi dan disagregasi informasi.
  • Perubahan terkait penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan.

Latar Belakang Penerbitan PSAK 118

Sebelum adanya IFRS 18, penyajian laporan laba rugi berdasarkan IAS 1 memberikan fleksibilitas yang cukup luas dalam pengelompokan dan penyajian informasi. Fleksibilitas tersebut memungkinkan perusahaan menyusun laporan sesuai karakteristik bisnisnya.

Namun, dalam praktiknya, fleksibilitas yang terlalu luas juga dapat menimbulkan perbedaan penyajian antarperusahaan. Dua perusahaan dengan karakteristik usaha yang relatif serupa dapat menyajikan subtotal dan pengelompokan beban yang berbeda.

Kondisi tersebut dapat menyulitkan investor dan pengguna laporan keuangan dalam melakukan perbandingan kinerja.

IASB kemudian mengembangkan IFRS 18 sebagai bagian dari upaya meningkatkan komunikasi kinerja keuangan perusahaan. Standar ini berfokus pada penyajian informasi yang lebih konsisten dan transparan.

Di Indonesia, adopsi standar tersebut dituangkan dalam PSAK 118. Penerapannya perlu dipahami oleh perusahaan agar perubahan struktur pelaporan dapat dipersiapkan dengan baik.

Tujuan Utama PSAK 118

Penerapan PSAK 118 memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

  1. Meningkatkan keterbandingan laporan laba rugi antarperusahaan.
  2. Menyediakan subtotal kinerja yang lebih konsisten.
  3. Memperjelas klasifikasi pendapatan dan beban.
  4. Meningkatkan transparansi ukuran kinerja yang digunakan manajemen.
  5. Memperbaiki kualitas agregasi dan disagregasi informasi keuangan.
  6. Membantu pengguna laporan keuangan memahami kinerja perusahaan secara lebih menyeluruh.

Perubahan Penting dalam PSAK 118

PSAK 118 membawa sejumlah perubahan yang perlu dipahami oleh perusahaan, khususnya bagian akuntansi, keuangan, dan pelaporan korporasi.

1. Perubahan Struktur Laporan Laba Rugi

Salah satu perubahan paling penting adalah pengelompokan pendapatan dan beban ke dalam kategori yang lebih terstruktur.

Dalam PSAK 118, laporan laba rugi mengelompokkan penghasilan dan beban ke dalam lima kategori utama:

  • Operasi.
  • Investasi.
  • Pendanaan.
  • Pajak penghasilan.
  • Operasi yang dihentikan.

Pengelompokan tersebut bertujuan membantu pengguna memahami sumber pendapatan dan beban perusahaan berdasarkan karakteristik aktivitasnya.

2. Penyajian Subtotal Laba Operasi

PSAK 118 memperkenalkan persyaratan penyajian subtotal laba operasi atau operating profit.

Subtotal ini memberikan gambaran mengenai hasil kegiatan operasi perusahaan sebelum memperhitungkan kategori investasi, pendanaan, dan pajak penghasilan sesuai ketentuan standar.

Penyajian laba operasi menjadi penting karena memberikan titik acuan yang lebih konsisten dalam membaca kinerja operasional perusahaan.

3. Penyajian Laba Sebelum Pendanaan dan Pajak Penghasilan

PSAK 118 juga mengatur penyajian subtotal laba sebelum pendanaan dan pajak penghasilan atau profit before financing and income taxes.

Subtotal ini membantu pengguna memahami hasil kinerja sebelum memperhitungkan penghasilan dan beban yang diklasifikasikan dalam kategori pendanaan serta pajak penghasilan.

Kehadiran subtotal ini memberikan informasi tambahan dalam menganalisis kinerja perusahaan.

4. Pengungkapan Management-defined Performance Measures

Salah satu perubahan penting lainnya adalah pengaturan mengenai Management-defined Performance Measures atau MPM.

MPM merupakan ukuran kinerja yang digunakan manajemen untuk mengomunikasikan pandangan manajemen mengenai aspek tertentu dari kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan kepada pengguna laporan keuangan.

Contohnya dapat berupa ukuran laba yang disesuaikan atau adjusted profit yang digunakan dalam komunikasi publik perusahaan, sepanjang memenuhi definisi dan kriteria MPM dalam PSAK 118.

Perusahaan perlu menjelaskan ukuran tersebut secara transparan, termasuk rekonsiliasi dengan subtotal atau total yang ditentukan oleh standar akuntansi.

5. Penguatan Prinsip Agregasi dan Disagregasi

PSAK 118 memberikan perhatian lebih besar terhadap bagaimana informasi keuangan dikelompokkan atau dipisahkan.

Informasi yang memiliki karakteristik serupa dapat digabungkan secara tepat. Sebaliknya, informasi yang memiliki karakteristik berbeda dan material perlu disajikan secara terpisah agar tidak mengaburkan makna laporan keuangan.

Prinsip ini membantu perusahaan menyajikan informasi yang lebih relevan dan mudah dipahami.

Memahami Lima Kategori dalam Laporan Laba Rugi PSAK 118

Pengelompokan pendapatan dan beban merupakan salah satu aspek utama dalam penerapan PSAK 118. Perusahaan perlu memahami karakteristik setiap kategori agar klasifikasi transaksi dilakukan secara tepat.

1. Kategori Operasi

Kategori operasi mencakup pendapatan dan beban yang tidak diklasifikasikan ke dalam kategori investasi, pendanaan, pajak penghasilan, atau operasi yang dihentikan.

Kategori ini menjadi bagian utama dalam menggambarkan aktivitas bisnis perusahaan.

Contoh unsur yang dapat termasuk dalam kategori operasi antara lain:

  • Pendapatan dari penjualan barang.
  • Pendapatan jasa.
  • Beban pokok penjualan.
  • Beban gaji dan tunjangan karyawan.
  • Beban pemasaran.
  • Beban administrasi.
  • Beban penyusutan aset operasional.
  • Beban operasional lainnya.

Kategori operasi memiliki peran penting karena mencerminkan hasil aktivitas utama maupun aktivitas lain yang tidak masuk dalam kategori khusus berdasarkan ketentuan standar.

2. Kategori Investasi

Kategori investasi mencakup penghasilan dan beban dari aset yang menghasilkan imbal hasil secara individual dan sebagian besar independen dari sumber daya lain yang digunakan perusahaan.

Contohnya dapat mencakup:

  • Penghasilan dari investasi tertentu.
  • Pendapatan bunga dari aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori investasi.
  • Penghasilan dari entitas asosiasi atau ventura bersama sesuai ketentuan yang relevan.
  • Beban yang berkaitan dengan aset investasi tertentu.

Namun, klasifikasi transaksi tetap perlu memperhatikan karakteristik bisnis utama perusahaan dan ketentuan khusus dalam PSAK 118.

3. Kategori Pendanaan

Kategori pendanaan berkaitan dengan penghasilan dan beban dari transaksi yang melibatkan pendanaan perusahaan.

Kategori ini membantu pengguna memahami dampak struktur pendanaan terhadap kinerja keuangan.

Contohnya meliputi:

  • Beban bunga pinjaman.
  • Beban bunga dari instrumen utang tertentu.
  • Penghasilan atau beban terkait kewajiban pendanaan.
  • Dampak perubahan nilai tertentu yang berkaitan dengan kewajiban pendanaan sesuai ketentuan standar.

Klasifikasi kategori pendanaan perlu memperhatikan ketentuan khusus, termasuk perlakuan terhadap perusahaan yang memiliki aktivitas bisnis utama tertentu.

4. Kategori Pajak Penghasilan

Kategori pajak penghasilan mencakup beban atau penghasilan pajak yang berkaitan dengan pajak penghasilan sesuai standar akuntansi yang berlaku.

Informasi ini disajikan terpisah agar pengguna dapat memahami dampak pajak terhadap hasil keuangan perusahaan.

5. Kategori Operasi yang Dihentikan

Kategori operasi yang dihentikan berkaitan dengan komponen usaha yang telah dihentikan atau diklasifikasikan sebagai operasi yang dihentikan sesuai persyaratan standar yang berlaku.

Pemisahan kategori ini membantu pengguna membedakan kinerja dari aktivitas yang masih berjalan dengan aktivitas yang telah dihentikan.

Ringkasan Lima Kategori PSAK 118

Kategori Fokus Informasi Contoh Umum
Operasi Aktivitas yang tidak masuk kategori lainnya Penjualan, beban pokok, gaji, pemasaran
Investasi Hasil dari aset investasi tertentu Penghasilan investasi dan bunga aset tertentu
Pendanaan Penghasilan dan beban pendanaan Beban bunga pinjaman
Pajak Penghasilan Dampak pajak penghasilan Beban pajak penghasilan
Operasi yang Dihentikan Kinerja komponen usaha yang dihentikan Hasil operasi yang dihentikan

Transformasi Struktur Laporan Laba Rugi

Perubahan struktur laporan laba rugi menjadi salah satu fokus utama dalam implementasi PSAK 118. Perusahaan perlu memahami bagaimana informasi pendapatan dan beban dikelompokkan serta bagaimana subtotal kinerja disajikan.

Struktur Laporan Laba Rugi Berdasarkan PSAK 118

Secara umum, penyajian laporan laba rugi berdasarkan PSAK 118 dapat mencakup komponen berikut, dengan tetap memperhatikan karakteristik transaksi dan ketentuan standar:

  1. Pendapatan.
  2. Beban operasi.
  3. Laba operasi.
  4. Penghasilan dan beban investasi.
  5. Laba sebelum pendanaan dan pajak penghasilan.
  6. Penghasilan dan beban pendanaan.
  7. Laba sebelum pajak penghasilan.
  8. Beban atau penghasilan pajak penghasilan.
  9. Laba dari operasi berkelanjutan.
  10. Hasil operasi yang dihentikan.
  11. Laba atau rugi periode berjalan.

Urutan dan rincian pos dapat disesuaikan dengan karakteristik entitas serta persyaratan penyajian yang berlaku.

Perbandingan Penyajian Sebelum dan Sesudah PSAK 118

Aspek Sebelum PSAK 118 Berdasarkan PSAK 118
Pengelompokan pendapatan dan beban Memiliki fleksibilitas penyajian yang lebih luas Menggunakan kategori yang lebih terstruktur
Subtotal laba operasi Penyajiannya tidak diwajibkan secara seragam dalam semua kondisi Menjadi subtotal yang diwajibkan
Subtotal laba sebelum pendanaan dan pajak Tidak diwajibkan secara spesifik seperti dalam standar baru Menjadi subtotal yang diwajibkan
Ukuran kinerja manajemen Pengungkapan belum diatur dengan ketentuan khusus MPM seperti standar baru MPM diatur melalui persyaratan pengungkapan
Agregasi dan disagregasi Mengikuti prinsip penyajian yang berlaku Diperjelas untuk meningkatkan transparansi
Keterbandingan laporan Dapat menghadapi perbedaan format dan subtotal Diarahkan menjadi lebih konsisten

Dampak Transformasi terhadap Perusahaan

Perubahan tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek pelaporan keuangan, antara lain:

  • Penyesuaian struktur akun dalam sistem akuntansi.
  • Perubahan pemetaan pendapatan dan beban.
  • Penyesuaian format laporan keuangan.
  • Perubahan proses konsolidasi.
  • Penambahan informasi dalam catatan atas laporan keuangan.
  • Penyesuaian kebijakan pelaporan internal.
  • Kebutuhan pelatihan bagi personel keuangan dan akuntansi.

Perusahaan perlu memastikan bahwa perubahan tidak hanya dilakukan pada tampilan laporan, tetapi juga pada proses pengumpulan, pengolahan, dan penyajian informasi keuangan.

Management-defined Performance Measures (MPM) dalam PSAK 118

MPM menjadi salah satu aspek yang mendapatkan perhatian khusus dalam PSAK 118.

Pengertian MPM

Management-defined Performance Measures adalah ukuran kinerja yang digunakan manajemen untuk mengomunikasikan pandangannya mengenai aspek tertentu dari kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan kepada pengguna laporan keuangan.

Ukuran ini dapat digunakan dalam presentasi investor, laporan manajemen, siaran pers, atau komunikasi publik lainnya.

Contoh ukuran yang mungkin memenuhi definisi MPM antara lain:

  • Adjusted operating profit.
  • Adjusted profit before tax.
  • Adjusted EBITDA, apabila memenuhi kriteria MPM.
  • Ukuran laba yang disesuaikan berdasarkan kebijakan komunikasi kinerja manajemen.

Tidak semua indikator keuangan yang digunakan perusahaan otomatis termasuk MPM. Penentuan status MPM harus mengikuti definisi dan kriteria yang ditetapkan dalam PSAK 118.

Tujuan Pengungkapan MPM

Pengungkapan MPM bertujuan meningkatkan transparansi atas ukuran kinerja yang digunakan manajemen.

Pengguna laporan keuangan perlu mengetahui bagaimana manajemen mendefinisikan ukuran tersebut, mengapa ukuran tersebut dianggap relevan, dan bagaimana perhitungannya dibandingkan dengan subtotal atau total yang ditentukan oleh standar akuntansi.

Informasi yang Perlu Diungkapkan

Dalam penerapan PSAK 118, pengungkapan MPM mencakup informasi yang memungkinkan pengguna memahami ukuran kinerja tersebut.

Secara umum, informasi yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Penjelasan mengenai ukuran kinerja yang digunakan.
  • Alasan manajemen menggunakan ukuran tersebut.
  • Metode perhitungan MPM.
  • Rekonsiliasi antara MPM dengan subtotal atau total yang paling langsung dapat dibandingkan sesuai ketentuan standar.
  • Penjelasan mengenai dampak pajak penghasilan dan kepentingan nonpengendali atas setiap item rekonsiliasi apabila dipersyaratkan.

Tantangan dalam Pengelolaan MPM

Perusahaan dapat menghadapi beberapa tantangan, seperti:

  • Perbedaan definisi ukuran kinerja antarunit.
  • Ketidakkonsistenan metode perhitungan.
  • Data pendukung yang belum terdokumentasi.
  • Perbedaan angka antara laporan internal dan laporan eksternal.
  • Kesulitan melakukan rekonsiliasi.
  • Kurangnya koordinasi antara bagian akuntansi, keuangan, dan hubungan investor.

Oleh karena itu, perusahaan perlu menetapkan tata kelola MPM yang jelas agar informasi yang disampaikan konsisten dan dapat dipahami.

Prinsip Agregasi dan Disagregasi dalam PSAK 118

Selain perubahan kategori dan subtotal, PSAK 118 juga memperkuat pengaturan mengenai agregasi dan disagregasi informasi keuangan.

Pengertian Agregasi

Agregasi adalah proses menggabungkan informasi keuangan yang memiliki karakteristik serupa ke dalam satu kelompok atau pos penyajian.

Penggabungan dilakukan agar laporan keuangan lebih ringkas dan mudah dibaca tanpa menghilangkan informasi yang material.

Pengertian Disagregasi

Disagregasi adalah proses memisahkan informasi keuangan menjadi beberapa kelompok atau pos yang lebih terperinci.

Pemisahan diperlukan apabila informasi memiliki karakteristik yang berbeda atau material sehingga penyajian secara gabungan dapat mengaburkan pemahaman pengguna laporan keuangan.

Contoh Penerapan

Kondisi Pendekatan Tujuan
Beban dengan karakteristik serupa Dapat diagregasikan Menyederhanakan penyajian
Beban material dengan sifat berbeda Perlu dipertimbangkan untuk dipisahkan Meningkatkan transparansi
Pendapatan dari sumber berbeda Dievaluasi berdasarkan karakteristiknya Menjelaskan sumber pendapatan
Pos tidak material yang serupa Dapat dikelompokkan sesuai ketentuan Menjaga laporan tetap ringkas

Penerapan prinsip ini membutuhkan pertimbangan profesional agar laporan keuangan tidak terlalu padat, tetapi juga tidak kehilangan informasi penting.

Dampak PSAK 118 terhadap Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

Penerapan PSAK 118 dapat memerlukan penyesuaian dalam sistem dan proses pelaporan keuangan perusahaan.

Perubahan ini perlu dikelola secara terencana agar perusahaan dapat menghasilkan laporan yang sesuai dengan ketentuan baru.

1. Penyesuaian Chart of Accounts

Chart of Accounts atau daftar akun merupakan struktur akun yang digunakan dalam sistem akuntansi perusahaan.

Perusahaan perlu mengevaluasi apakah struktur akun yang digunakan sudah mendukung klasifikasi pendapatan dan beban berdasarkan kategori PSAK 118.

Penyesuaian dapat mencakup:

  • Peninjauan akun pendapatan.
  • Peninjauan akun beban.
  • Pemetaan akun berdasarkan kategori PSAK 118.
  • Penyesuaian kode akun jika diperlukan.
  • Pengujian hasil pemetaan pada laporan keuangan.

2. Penyesuaian Sistem ERP dan Software Akuntansi

Perusahaan yang menggunakan sistem ERP atau software akuntansi perlu mengevaluasi kemampuan sistem dalam menghasilkan laporan sesuai struktur PSAK 118.

Penyesuaian sistem dapat meliputi:

  • Pengaturan ulang klasifikasi akun.
  • Penambahan atribut transaksi.
  • Perubahan format laporan laba rugi.
  • Pengembangan proses rekonsiliasi.
  • Penyesuaian sistem konsolidasi.
  • Pengujian hasil pelaporan.

3. Penyesuaian Prosedur Pelaporan

Prosedur penyusunan laporan keuangan perlu diperbarui agar sesuai dengan ketentuan baru.

Perusahaan perlu menetapkan tanggung jawab, alur persetujuan, jadwal pelaporan, dan mekanisme pemeriksaan informasi.

4. Penguatan Pengendalian Internal

Perubahan standar dapat meningkatkan kebutuhan pengendalian terhadap klasifikasi transaksi dan penyajian informasi.

Pengendalian internal perlu memastikan bahwa:

  • Transaksi dicatat pada akun yang sesuai.
  • Klasifikasi pendapatan dan beban dilakukan secara konsisten.
  • Perubahan kebijakan terdokumentasi.
  • Rekonsiliasi dilakukan secara tepat.
  • Laporan diperiksa sebelum diterbitkan.

5. Peningkatan Kompetensi SDM Keuangan

Personel keuangan dan akuntansi perlu memahami perubahan standar agar dapat melaksanakan proses pelaporan secara benar.

Pelatihan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman mengenai klasifikasi, penyajian, pengungkapan, dan analisis laporan keuangan berdasarkan PSAK 118.

Tahapan Persiapan Implementasi PSAK 118

Persiapan implementasi perlu dilakukan sejak awal agar perusahaan memiliki waktu yang cukup untuk mengevaluasi sistem, kebijakan, dan sumber daya manusia.

1. Memahami Persyaratan Standar

Langkah pertama adalah mempelajari seluruh ketentuan PSAK 118, termasuk definisi, ruang lingkup, kategori laporan laba rugi, subtotal, pengungkapan MPM, serta ketentuan transisi.

Pemahaman ini menjadi dasar bagi perusahaan dalam menentukan kebutuhan perubahan.

2. Melakukan Gap Analysis

Gap analysis dilakukan dengan membandingkan praktik pelaporan yang saat ini digunakan dengan persyaratan PSAK 118.

Evaluasi dapat mencakup:

  • Struktur laporan laba rugi.
  • Klasifikasi akun pendapatan dan beban.
  • Penggunaan subtotal.
  • Pengungkapan ukuran kinerja.
  • Pengelolaan data keuangan.
  • Prosedur konsolidasi.
  • Sistem akuntansi dan pelaporan.

3. Mengidentifikasi Dampak terhadap Bisnis

Perusahaan perlu mengidentifikasi bagian yang akan terdampak oleh perubahan standar.

Dampak dapat berbeda antara perusahaan perdagangan, manufaktur, jasa, perbankan, dan perusahaan yang memiliki aktivitas investasi atau pendanaan tertentu.

4. Menyusun Rencana Implementasi

Berdasarkan hasil gap analysis, perusahaan dapat menyusun rencana kerja yang mencakup:

  • Aktivitas yang perlu disesuaikan.
  • Unit kerja yang bertanggung jawab.
  • Kebutuhan sumber daya.
  • Target penyelesaian.
  • Jadwal implementasi.
  • Mekanisme evaluasi.

5. Melakukan Penyesuaian Sistem dan Data

Perusahaan perlu menyiapkan struktur data dan sistem akuntansi agar mendukung klasifikasi transaksi berdasarkan PSAK 118.

Penyesuaian harus diuji sebelum digunakan dalam proses pelaporan resmi.

6. Melakukan Simulasi Laporan Keuangan

Simulasi dapat dilakukan menggunakan data periode sebelumnya untuk melihat bagaimana struktur laporan laba rugi berubah setelah penerapan PSAK 118.

Simulasi membantu perusahaan menemukan kesalahan pemetaan dan kebutuhan perbaikan sebelum implementasi.

7. Melakukan Evaluasi dan Pengendalian

Setelah penyesuaian dilakukan, perusahaan perlu mengevaluasi hasil pelaporan dan memastikan seluruh proses berjalan sesuai kebijakan.

Evaluasi juga perlu memperhatikan ketentuan transisi dan tanggal efektif penerapan.

Ketentuan Transisi dan Tanggal Efektif PSAK 118

Aspek transisi merupakan bagian penting yang perlu dipahami perusahaan dalam mempersiapkan penerapan PSAK 118.

PSAK 118 mengadopsi IFRS 18 yang secara internasional berlaku efektif untuk periode pelaporan tahunan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2027, dengan penerapan dini diperkenankan berdasarkan ketentuan terkait.

Dalam penerapan di Indonesia, perusahaan perlu memastikan tanggal efektif dan ketentuan transisi berdasarkan dokumen resmi PSAK 118 yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia.

Penerapan Retrospektif

IFRS 18 mensyaratkan penerapan secara retrospektif sesuai ketentuan transisinya. Artinya, perusahaan perlu memperhatikan penyajian kembali informasi komparatif agar laporan keuangan dapat dibandingkan secara tepat.

Hal ini memerlukan persiapan data historis dan pemetaan akun yang memadai.

Persiapan Data Komparatif

Perusahaan perlu mengevaluasi ketersediaan data periode sebelumnya untuk mendukung penyajian komparatif.

Persiapan dapat meliputi:

  • Pengumpulan data pendapatan dan beban.
  • Pemetaan ulang akun.
  • Identifikasi transaksi yang memerlukan klasifikasi khusus.
  • Rekonsiliasi laporan lama dan laporan berdasarkan PSAK 118.
  • Dokumentasi pertimbangan klasifikasi.

Pentingnya Persiapan Lebih Awal

Persiapan lebih awal membantu perusahaan mengurangi risiko kesalahan pada saat standar mulai diterapkan.

Dengan demikian, perusahaan memiliki waktu untuk memperbaiki sistem, meningkatkan kompetensi karyawan, serta menguji hasil pelaporan.

Hubungan PSAK 118 dengan Standar Akuntansi Lain

PSAK 118 tidak berdiri sendiri. Penerapannya perlu dipahami bersama standar akuntansi lain yang berkaitan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi.

1. Hubungan dengan PSAK 201

PSAK 118 menggantikan ketentuan penyajian laporan keuangan sebelumnya dalam PSAK 201. Perubahan ini terutama berfokus pada penyajian dan pengungkapan, termasuk struktur laporan laba rugi.

Perusahaan perlu memahami perbedaan ketentuan lama dan baru agar proses transisi berjalan dengan baik.

2. Hubungan dengan PSAK 115

PSAK 115 mengatur pendapatan dari kontrak dengan pelanggan.

Dalam konteks PSAK 118, informasi pendapatan yang telah diakui berdasarkan PSAK 115 perlu disajikan dan diklasifikasikan sesuai persyaratan penyajian yang berlaku.

Dengan demikian, perusahaan perlu memastikan data pendapatan dapat dipetakan secara tepat dalam laporan laba rugi.

3. Hubungan dengan PSAK 109

PSAK 109 berkaitan dengan instrumen keuangan.

Beberapa penghasilan dan beban yang berkaitan dengan instrumen keuangan dapat memengaruhi klasifikasi dalam laporan laba rugi berdasarkan PSAK 118.

Perusahaan perlu mempertimbangkan sifat transaksi dan ketentuan klasifikasi yang berlaku.

4. Hubungan dengan PSAK 216

PSAK 216 mengatur aset tetap.

Beban penyusutan aset tetap dapat menjadi bagian dari beban yang disajikan dalam kategori operasi atau kategori lain sesuai karakteristik penggunaan aset dan ketentuan PSAK 118.

5. Hubungan dengan PSAK 208

PSAK 208 berkaitan dengan kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi, dan kesalahan.

Pemahaman terhadap PSAK 208 diperlukan ketika perusahaan mengevaluasi perubahan kebijakan, estimasi, serta perlakuan informasi komparatif yang relevan.

Peran Manajemen dan Profesional Keuangan dalam Implementasi PSAK 118

Keberhasilan penerapan PSAK 118 membutuhkan kerja sama berbagai fungsi dalam perusahaan.

1. Direksi dan Manajemen

Manajemen bertanggung jawab memberikan dukungan strategis, menyediakan sumber daya, serta memastikan proses implementasi berjalan sesuai rencana.

2. Departemen Akuntansi

Bagian akuntansi berperan dalam mengevaluasi kebijakan, memetakan akun, menyusun laporan, dan memastikan klasifikasi transaksi sesuai ketentuan.

3. Departemen Keuangan

Departemen keuangan membantu menilai dampak perubahan terhadap analisis kinerja, pelaporan internal, perencanaan keuangan, dan komunikasi informasi keuangan.

4. Internal Audit

Internal audit dapat membantu mengevaluasi kesiapan pengendalian internal dan menilai apakah proses implementasi telah dijalankan sesuai kebijakan perusahaan.

5. Teknologi Informasi

Bagian IT mendukung penyesuaian sistem akuntansi, ERP, basis data, dan aplikasi pelaporan agar dapat menghasilkan informasi yang dibutuhkan.

6. Investor Relations

Fungsi investor relations perlu memahami perubahan penyajian kinerja agar komunikasi kepada investor dan pemangku kepentingan dapat dilakukan secara konsisten.

Tantangan dalam Penerapan PSAK 118

Perubahan standar akuntansi dapat menimbulkan tantangan teknis maupun operasional. Perusahaan perlu mengantisipasi berbagai kendala agar proses penerapan berjalan efektif.

1. Perbedaan Pemahaman terhadap Kategori

Klasifikasi pendapatan dan beban dapat memerlukan pertimbangan profesional, terutama pada perusahaan dengan aktivitas bisnis yang beragam.

Solusinya adalah memperkuat pemahaman terhadap definisi kategori dan menyusun kebijakan klasifikasi yang konsisten.

2. Keterbatasan Data Historis

Penerapan retrospektif membutuhkan informasi komparatif yang memadai.

Apabila data historis belum tersusun dengan baik, perusahaan dapat mengalami kesulitan dalam melakukan pemetaan ulang.

3. Kebutuhan Penyesuaian Sistem

Sistem akuntansi yang digunakan perusahaan mungkin belum dirancang untuk menghasilkan struktur laporan sesuai PSAK 118.

Perusahaan perlu melakukan analisis kebutuhan dan pengujian sistem sebelum implementasi.

4. Perbedaan Laporan Internal dan Eksternal

Perusahaan dapat menggunakan ukuran kinerja yang berbeda untuk kepentingan manajemen dan pelaporan eksternal.

Kondisi ini membutuhkan pengendalian dan rekonsiliasi yang jelas, terutama apabila ukuran internal memenuhi kriteria MPM.

5. Keterbatasan Kompetensi Personel

Tidak semua personel keuangan memahami perubahan standar secara menyeluruh.

Pelatihan dan pembelajaran berkelanjutan diperlukan agar karyawan mampu menjalankan proses pelaporan sesuai ketentuan.

Strategi Meningkatkan Kesiapan Perusahaan Menghadapi PSAK 118

Untuk memastikan implementasi berjalan efektif, perusahaan perlu menyusun strategi yang menggabungkan aspek teknis akuntansi, teknologi, sumber daya manusia, dan tata kelola.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Membentuk tim implementasi: Melibatkan bagian akuntansi, keuangan, IT, audit internal, dan manajemen.
  2. Menyusun daftar perubahan: Mengidentifikasi seluruh kebijakan dan proses yang perlu disesuaikan.
  3. Melakukan pemetaan akun: Memastikan setiap akun dapat diklasifikasikan sesuai kategori PSAK 118.
  4. Meninjau ukuran kinerja: Mengidentifikasi ukuran yang digunakan manajemen dan mengevaluasi apakah termasuk MPM.
  5. Memperbarui sistem pelaporan: Menyesuaikan ERP, software akuntansi, dan format laporan.
  6. Menyiapkan data komparatif: Memastikan data historis tersedia dan dapat digunakan.
  7. Memberikan pelatihan: Meningkatkan kompetensi personel yang terlibat.
  8. Melakukan simulasi: Menguji hasil penyajian laporan sebelum penerapan.
  9. Memperkuat pengendalian internal: Menetapkan pemeriksaan dan persetujuan atas klasifikasi transaksi.
  10. Melakukan evaluasi berkala: Memantau perkembangan implementasi dan menyelesaikan kendala.

Indikator Keberhasilan Implementasi PSAK 118

Perusahaan perlu memiliki indikator untuk menilai kesiapan dan efektivitas penerapan PSAK 118.

Indikator Aspek yang Dinilai Tujuan
Kesiapan pemetaan akun Kelengkapan klasifikasi akun Memastikan akun dapat disajikan sesuai kategori
Kesiapan sistem akuntansi Kemampuan sistem menghasilkan laporan Mendukung pelaporan yang tepat
Ketersediaan data komparatif Kelengkapan informasi historis Mendukung penerapan retrospektif
Kesesuaian format laporan Struktur dan subtotal laporan laba rugi Memastikan penyajian sesuai standar
Kesiapan pengungkapan MPM Identifikasi dan rekonsiliasi ukuran kinerja Meningkatkan transparansi
Kompetensi personel Pemahaman terhadap PSAK 118 Mendukung pelaksanaan standar
Penyelesaian gap analysis Tindak lanjut kesenjangan Memantau kesiapan implementasi
Efektivitas pengendalian Hasil pemeriksaan dan rekonsiliasi Mengurangi kesalahan pelaporan

Indikator tersebut dapat dikembangkan menjadi dashboard implementasi agar manajemen dapat memantau kemajuan secara lebih terstruktur.

Materi Training PSAK 118: Transformasi Struktur Laporan Laba Rugi 📚

Program Training PSAK 118 dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai perubahan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan, khususnya transformasi struktur laporan laba rugi.

Materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, tingkat pemahaman peserta, serta karakteristik transaksi dan sistem pelaporan masing-masing organisasi.

1. Pengantar PSAK 118 dan Perkembangan Standar Akuntansi 📘

  • Latar belakang penerbitan dan tujuan PSAK 118.
  • Hubungan PSAK 118 dengan IFRS 18 dan PSAK 201.

2. Perubahan Struktur Laporan Laba Rugi 📊

  • Perbandingan penyajian laporan laba rugi sebelum dan sesudah PSAK 118.
  • Pemahaman kategori pendapatan, beban, dan subtotal baru.

3. Klasifikasi Pendapatan dan Beban 💼

  • Pengelompokan transaksi ke dalam kategori operasi, investasi, dan pendanaan.
  • Pemahaman kategori pajak penghasilan dan operasi yang dihentikan.

4. Penyajian Subtotal Laba Operasi dan Laba Sebelum Pendanaan 🧮

  • Konsep dan penyajian laba operasi.
  • Penyajian laba sebelum pendanaan dan pajak penghasilan.

5. Management-defined Performance Measures (MPM) 📈

  • Pengertian, kriteria, dan identifikasi ukuran kinerja MPM.
  • Persyaratan pengungkapan dan rekonsiliasi MPM.

6. Prinsip Agregasi dan Disagregasi Informasi Keuangan 📝

  • Pengelompokan informasi berdasarkan karakteristik dan materialitas.
  • Pemisahan informasi yang perlu diungkapkan secara terperinci.

7. Dampak PSAK 118 terhadap Sistem Akuntansi dan Pelaporan 💻

  • Penyesuaian chart of accounts dan sistem pelaporan.
  • Evaluasi dampak terhadap ERP dan proses konsolidasi.

8. Ketentuan Transisi dan Persiapan Implementasi 🔄

  • Pemahaman tanggal efektif dan ketentuan transisi.
  • Persiapan data historis serta informasi komparatif.

9. Analisis Dampak PSAK 118 terhadap Kinerja Keuangan 🔍

  • Analisis perubahan penyajian terhadap interpretasi kinerja.
  • Evaluasi konsistensi informasi laporan keuangan.

10. Strategi Implementasi dan Pengendalian Internal 🚀

  • Penyusunan rencana implementasi dan evaluasi kesiapan perusahaan.
  • Penguatan pengendalian serta monitoring penerapan PSAK 118.

Siapa yang Perlu Mengikuti Training PSAK 118?

Training PSAK 118 relevan bagi profesional yang terlibat dalam penyusunan, pemeriksaan, analisis, dan penggunaan laporan keuangan.

Jabatan atau Bagian Keterkaitan dengan PSAK 118
Finance Manager Mengawasi pelaporan dan analisis kinerja keuangan
Accounting Manager Mengelola kebijakan dan penyajian laporan keuangan
Accounting Staff Menyiapkan pencatatan dan klasifikasi transaksi
Financial Controller Mengendalikan proses pelaporan keuangan
Chief Financial Officer Mengambil keputusan strategis berdasarkan informasi keuangan
Internal Auditor Mengevaluasi pengendalian pelaporan keuangan
Financial Analyst Menganalisis kinerja dan informasi keuangan
Tax Staff Memahami keterkaitan informasi pajak dalam laporan keuangan
Konsolidasi dan Reporting Staff Mengelola penyusunan laporan keuangan konsolidasian
Manajemen Perusahaan Memahami perubahan penyajian kinerja perusahaan
Investor Relations Menyampaikan informasi kinerja kepada pemangku kepentingan
Konsultan Keuangan Mendukung evaluasi dan persiapan penerapan standar

Pelatihan ini juga dapat diikuti oleh staf administrasi keuangan, pengelola anggaran, serta personel lain yang membutuhkan pemahaman mengenai perubahan penyajian laporan keuangan.

Metode Pelaksanaan Training PSAK 118

Agar peserta dapat memahami perubahan standar secara lebih efektif, pelatihan dapat menggunakan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan teori dan pembahasan teknis.

1. Presentasi Materi

Instruktur menyampaikan konsep dan ketentuan PSAK 118 secara sistematis, termasuk perubahan kategori laporan laba rugi, subtotal, MPM, dan pengungkapan.

2. Diskusi Interaktif

Peserta dapat mendiskusikan tantangan yang dihadapi perusahaan dalam menyusun laporan keuangan dan mempersiapkan penerapan standar baru.

3. Pembahasan Ilustrasi Penyajian

Peserta mempelajari ilustrasi struktur laporan laba rugi dan pemetaan pendapatan serta beban berdasarkan kategori PSAK 118.

4. Latihan Analisis dan Klasifikasi

Peserta dapat mempelajari cara mengevaluasi klasifikasi transaksi, memahami subtotal, serta mengidentifikasi informasi yang memerlukan pengungkapan lebih lanjut.

5. Evaluasi Pemahaman

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui pemahaman peserta mengenai materi yang disampaikan dan aspek penerapan yang masih memerlukan pendalaman.

Manfaat Training PSAK 118 bagi Peserta dan Perusahaan

Training PSAK 118 memberikan manfaat bagi individu maupun organisasi karena membahas perubahan standar yang dapat memengaruhi proses pelaporan keuangan.

Manfaat bagi Peserta

Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu:

  • Memahami latar belakang dan tujuan PSAK 118.
  • Mengenali perubahan struktur laporan laba rugi.
  • Memahami lima kategori pendapatan dan beban.
  • Menjelaskan subtotal laba operasi.
  • Memahami subtotal laba sebelum pendanaan dan pajak penghasilan.
  • Mengenali kriteria Management-defined Performance Measures.
  • Memahami prinsip agregasi dan disagregasi.
  • Mengidentifikasi dampak PSAK 118 terhadap sistem akuntansi.
  • Memahami ketentuan transisi dan persiapan implementasi.
  • Mendukung evaluasi penyajian laporan keuangan.

Manfaat bagi Perusahaan

Bagi organisasi, pelatihan ini dapat mendukung:

  • Peningkatan kesiapan menghadapi penerapan PSAK 118.
  • Penyesuaian proses penyusunan laporan keuangan.
  • Peningkatan konsistensi klasifikasi pendapatan dan beban.
  • Penguatan transparansi informasi keuangan.
  • Peningkatan kualitas analisis kinerja perusahaan.
  • Penguatan koordinasi antarbagian.
  • Pengurangan risiko kesalahan penyajian.
  • Peningkatan kompetensi personel keuangan dan akuntansi.
  • Pengembangan sistem pelaporan yang lebih terstruktur.

FAQ Seputar Training PSAK 118: Transformasi Struktur Laporan Laba Rugi

1. Apa yang dimaksud dengan PSAK 118?

PSAK 118 adalah standar akuntansi keuangan yang mengatur penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Standar ini mengadopsi IFRS 18 dan membawa perubahan penting pada struktur laporan laba rugi, subtotal kinerja, serta pengungkapan ukuran kinerja yang ditentukan manajemen.

2. Apa tujuan utama penerapan PSAK 118?

Tujuan utamanya adalah meningkatkan keterbandingan, transparansi, dan kegunaan informasi laporan keuangan. Standar ini membantu pengguna memahami kinerja perusahaan melalui pengelompokan pendapatan dan beban serta subtotal yang lebih konsisten.

3. Apa saja perubahan utama dalam PSAK 118?

Perubahan utamanya mencakup pengelompokan pendapatan dan beban ke dalam lima kategori, penyajian subtotal laba operasi, penyajian laba sebelum pendanaan dan pajak penghasilan, pengungkapan MPM, serta penguatan prinsip agregasi dan disagregasi.

4. Apa yang dimaksud dengan Management-defined Performance Measures?

MPM merupakan ukuran kinerja yang digunakan manajemen untuk mengomunikasikan pandangannya mengenai aspek tertentu dari kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. PSAK 118 mengatur pengungkapan dan rekonsiliasi ukuran tersebut agar lebih transparan bagi pengguna laporan keuangan.

5. Kapan PSAK 118 mulai berlaku?

IFRS 18 berlaku efektif untuk periode pelaporan tahunan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2027, dengan penerapan dini diperkenankan. Untuk penerapan di Indonesia, perusahaan perlu memastikan tanggal efektif berdasarkan dokumen resmi PSAK 118 yang diterbitkan oleh DSAK IAI.

6. Siapa yang perlu mengikuti Training PSAK 118?

Pelatihan ini relevan bagi Finance Manager, Accounting Manager, staf akuntansi, financial controller, auditor internal, analis keuangan, CFO, staf pelaporan, dan manajemen perusahaan.

7. Apa manfaat Training PSAK 118 bagi perusahaan?

Pelatihan membantu perusahaan memahami perubahan standar, mempersiapkan penyesuaian sistem akuntansi, meningkatkan kompetensi personel, memperbaiki klasifikasi transaksi, dan memperkuat kualitas pelaporan keuangan.

Pengaturan Management-defined Performance Measures dan penguatan prinsip agregasi serta disagregasi juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan perusahaan. Perubahan tersebut dapat berdampak pada sistem akuntansi, struktur akun, prosedur pelaporan, pengendalian internal, serta kompetensi sumber daya manusia.

Oleh karena itu, perusahaan perlu mempersiapkan penerapan PSAK 118 melalui evaluasi kebijakan, pemetaan akun, penyesuaian sistem, penyediaan data komparatif, simulasi laporan keuangan, dan peningkatan kompetensi personel.

Melalui Training PSAK 118: Transformasi Struktur Laporan Laba Rugi, peserta dapat memahami perubahan standar, mempelajari klasifikasi pendapatan dan beban, memahami subtotal baru, serta mempersiapkan proses implementasi secara lebih terarah.

Dengan persiapan yang baik, perusahaan dapat meningkatkan kualitas pelaporan keuangan, memperkuat transparansi informasi, dan mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat.

Tingkatkan pemahaman dan kesiapan tim keuangan serta akuntansi perusahaan dalam menghadapi perubahan standar pelaporan keuangan melalui program Training PSAK 118: Transformasi Struktur Laporan Laba Rugi bersama PT Sentra Media Edukasindo.

📩 Hubungi tim kami untuk memperoleh informasi mengenai program pelatihan, materi pembahasan, jadwal pelaksanaan, dan penawaran kerja sama Training PSAK 118 sesuai kebutuhan perusahaan atau instansi Anda.

PT Sentra Media Edukasindo – Solusi Pengembangan Kompetensi dan Pelatihan Profesional.

author-avatar

Tentang EDUKASINDO

SENTRA MEDIA EDUKASINDO merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendampingan kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan kemajuan di bidang pendidikan dan telekomunikasi. Kami melayani individu yang menjadi bagian dari suatu organisasi, baik sebagai karyawan maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) di lembaga pemerintah. Kami berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan SDM di Negara Kesatuan Republik Indonesia.