- Management
- BNSP
- Business Training Series
- Communication Training Series
- CSR & Community Development Training Series
- Human Resources Development Training Series
- Leadership Training Series
- Management Training Series
- Marketing & Sales Training Series
- Media Training Series
- Motivation Training Series
- Outbond and Team Building Program
- Public Relations / Humas Training Series
- Secretaries Training Series
- Security Training
- UMKM / Start-Up Business Program
- Functional
- Collection Training Series
- Finance and Accounting Training Series
- Logistics Training Series
- Management Project Training Series
- Manufacturing Training Series
- Microsoft Office Training Series
- Operation and Maintenance
- Pajak Training Series
- Perbankan Training Series
- Perhotelan Training Series
- Procurement & Purchasing Training Series
- Production Training Series
- Technical
- Specialist Areas
- Advertising, Printing, and Media Industry
- Agribusiness Industry
- Analisis Mendalam Dampak Lingkungan (AMDAL)
- Artificial Intelligence & Data Science
- Automotive Industry
- Computer Services and Other Devices Industry
- Construction Industry
- Consumer Goods Industry
- Diklat / Bimtek Pemerintah
- E-Commerce Industry
- Electronics Industry
- Energy Industry
- Export – Import Training Series
- Financial Industry – Bank
- Financial Industry – Insurance
- Training ISO
- Training MSDM
- Training Lainnya
Bimtek Teknik Koding Diagnosis dan Prosedur INA‑CBGs dengan Akurat
Dalam sistem pelayanan kesehatan yang berbasis Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), akurasi dalam proses koding diagnosis dan prosedur sangatlah penting. Hal ini berkaitan langsung dengan validitas klaim yang diajukan ke BPJS Kesehatan, serta efektivitas pembiayaan yang dilakukan berdasarkan sistem INA‑CBGs (Indonesian Case-Based Groups).
Masalah umum yang sering terjadi di lapangan, baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta, adalah ketidaksesuaian kode diagnosis dan prosedur dengan dokumentasi medis. Ini sering kali menjadi penyebab klaim ditolak, dikurangi, atau tidak sesuai tarif. Oleh karena itu, pelatihan atau Bimtek Teknik Koding Diagnosis dan Prosedur INA‑CBGs dengan Akurat sangat diperlukan oleh para tenaga coding, staf klaim, bahkan dokter.
Mengapa Koding Diagnosis dan Prosedur Harus Akurat
Salah satu prinsip utama dalam sistem INA‑CBGs adalah penentuan tarif pelayanan berdasarkan kombinasi antara diagnosis utama dan tindakan medis (prosedur) yang dilakukan. Kesalahan kecil dalam koding dapat berdampak besar pada hasil klaim dan finansial rumah sakit.
Dampak Ketidakakuratan Koding:
-
Klaim BPJS ditolak karena ketidaksesuaian diagnosis dan tindakan.
-
Pembayaran tidak optimal, karena kasus dikategorikan dalam grup yang lebih rendah.
-
Audit BPJS atau Kemenkes yang dapat menyebabkan penalti administratif.
-
Citra rumah sakit buruk di mata BPJS sebagai mitra strategis.
Tujuan Pelaksanaan Bimtek Koding Diagnosis dan Prosedur
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan pemahaman tenaga kesehatan terhadap:
-
Struktur kode diagnosis (ICD‑10) dan prosedur (ICD‑9 CM)
-
Cara membaca dan menafsirkan rekam medis pasien
-
Kesesuaian antara data klinis dengan kode INA‑CBGs
-
Praktik koding yang sesuai regulasi dan standar nasional
Sasaran Peserta Bimtek
Pelatihan ini ditujukan bagi:
-
Tenaga coding atau coder di rumah sakit
-
Petugas administrasi klaim BPJS
-
Dokter penanggung jawab pasien (DPJP)
-
Tim rekam medis
-
Kepala unit pelayanan dan manajemen rumah sakit
Komponen Materi dalam Bimtek
| Komponen Materi | Penjelasan |
|---|---|
| Pengantar INA‑CBGs | Sejarah, regulasi, dan prinsip dasar sistem INA‑CBGs |
| ICD‑10 untuk Diagnosis | Klasifikasi penyakit dan kondisi medis dalam sistem internasional |
| ICD‑9 CM untuk Prosedur | Klasifikasi tindakan dan prosedur medis yang direkam |
| Korelasi Diagnosis-Prosedur | Teknik pemilihan pasangan diagnosis dan prosedur yang sesuai |
| Pembacaan Dokumen Medis | Cara mengekstrak informasi klinis yang tepat dari rekam medis |
| Studi Kasus & Simulasi | Latihan nyata menggunakan data pasien anonim |
| Audit Koding & Verifikasi | Langkah audit internal sebelum klaim dikirim |
Dasar Regulasi dan Sumber Resmi
Pelatihan koding ini disusun berdasarkan peraturan dan sumber resmi dari pemerintah, seperti:
-
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 64 Tahun 2016 tentang Standar Tarif INA‑CBGs
-
Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan
-
Pedoman Pengelolaan Klaim INA‑CBGs oleh BPJS Kesehatan
-
Referensi Kementerian Kesehatan RI sebagai sumber kebijakan nasional
Jenis Kode dan Fungsinya dalam Klaim INA‑CBGs
| Jenis Kode | Fungsi dalam Sistem INA‑CBGs |
|---|---|
| Kode ICD‑10 | Menentukan diagnosis utama dan sekunder pasien |
| Kode ICD‑9 CM | Menentukan tindakan medis atau prosedur klinis |
| Kode Tarif CBG | Menentukan besaran tarif berdasarkan kombinasi diagnosis & prosedur |
| Kode Severity Level | Menunjukkan tingkat keparahan kasus |
Langkah Teknis dalam Proses Koding yang Benar
Untuk memastikan akurasi, pelatihan Bimtek mengajarkan langkah sistematis sebagai berikut:
-
Review Dokumen Medis Lengkap
Resume medis, hasil lab, radiologi, tindakan operasi, dll. -
Identifikasi Diagnosis Utama
Diagnosis yang paling bertanggung jawab atas perawatan pasien. -
Identifikasi Diagnosis Tambahan
Komorbiditas atau komplikasi yang relevan. -
Tentukan Prosedur Utama dan Tambahan
Semua tindakan medis yang berdampak pada biaya perawatan. -
Pilih Kode ICD‑10 dan ICD‑9 CM yang Sesuai
Gunakan buku atau sistem digital yang terverifikasi. -
Kroscek dengan Tarif INA‑CBGs
Cek kombinasi diagnosis + prosedur → tarif CBG → severity level. -
Finalisasi dan Verifikasi Tim Auditor Internal
Coder dan tim audit memastikan tidak ada inkonsistensi.
Contoh Kasus Nyata
Kasus: Pasien dengan Diagnosis Stroke Non-Hemoragik + Prosedur Fisioterapi
-
Dokumen Medis:
-
Diagnosis: Stroke non-hemoragik (ICD‑10: I63.9)
-
Prosedur: Fisioterapi rehabilitatif (ICD‑9 CM: 93.39)
-
-
Kombinasi CBG:
-
CBG Code: B0401
-
Severity Level: 2 (karena terdapat komplikasi mobilitas)
-
Tarif: Rp 6.500.000 (simulasi berdasarkan referensi INA‑CBGs 2024)
-
Masalah Awal:
Dokumen awal tidak mencantumkan komplikasi, sehingga sistem hanya membaca Severity Level 1 (tarif Rp 4.100.000). Setelah pelatihan, coder memahami bahwa diagnosis tambahan dan hasil evaluasi mobilitas harus dicatat untuk mengangkat severity level sesuai kenyataan klinis.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
-
Diagnosis ditulis secara umum, tidak spesifik sesuai ICD‑10
-
Tidak mencatat prosedur minor yang berdampak pada severity
-
Salah input kode → klaim masuk ke CBG yang tidak relevan
-
Tidak update dengan versi terbaru buku ICD‑10 dan ICD‑9 CM
-
Tidak melakukan double-check sebelum klaim dikirim
Checklist Praktis Koding Diagnosis dan Prosedur
Berikut checklist yang digunakan dalam pelatihan:
| Checklist | Sudah / Belum |
|---|---|
| Dokumen medis lengkap diverifikasi? | |
| Diagnosis utama dan sekunder jelas? | |
| Semua prosedur sudah tercatat? | |
| Kode ICD‑10 & ICD‑9 CM akurat? | |
| Kode CBG sudah sesuai tarif? | |
| Severity level sudah diperiksa? | |
| Ada tanda tangan dan tanggal DPJP? |
Keterkaitan dengan Strategi Penanganan Klaim
Teknik koding diagnosis dan prosedur merupakan fondasi utama dalam Bimtek Strategi Penanganan Klaim BPJS Kesehatan Berbasis INA‑CBGs. Tanpa proses koding yang tepat, strategi apapun untuk mengelola klaim akan sia-sia. Maka dari itu, integrasi antara tim medis, tim koding, dan auditor internal sangat ditekankan dalam pelatihan ini.
Manfaat Langsung Setelah Mengikuti Bimtek
-
Menurunkan tingkat klaim ditolak atau dikurangi
-
Meningkatkan akurasi dokumentasi dan validitas medis
-
Meningkatkan nilai klaim dengan severity yang sesuai
-
Mempercepat proses klaim karena dokumen siap audit
-
Meningkatkan koordinasi tim medis dan tim administratif
Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Mengikuti Bimtek
Sebelum mengikuti pelatihan, peserta disarankan untuk:
-
Membawa contoh resume medis nyata (tanpa data identitas pasien)
-
Menyiapkan perangkat seperti laptop & buku ICD‑10/ICD‑9
-
Menyusun daftar masalah yang sering muncul dalam proses koding
-
Memiliki akses sistem INA‑CBGs atau software rumah sakit
FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan)
1. Siapa yang sebaiknya ikut Bimtek Teknik Koding Diagnosis dan Prosedur?
Peserta ideal meliputi tenaga koding (coder), petugas klaim BPJS, petugas rekam medis, dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), serta auditor internal rumah sakit. Semakin komprehensif tim yang mengikuti, semakin efektif implementasi hasil pelatihan.
2. Apakah koding hanya tugas bagian rekam medis atau klaim?
Tidak. Koding yang akurat memerlukan pemahaman klinis dan dokumentasi medis yang baik. Oleh karena itu, peran DPJP sangat krusial untuk memastikan diagnosis dan prosedur yang ditulis bisa diterjemahkan dengan benar oleh coder.
3. Bagaimana jika rumah sakit menggunakan software klaim otomatis?
Meski telah menggunakan software, pemahaman manual tentang ICD‑10 dan ICD‑9 tetap penting. Banyak software hanya bersifat pendukung. Validitas tetap bergantung pada input manusia dan dokumentasi medis yang akurat.
4. Apakah Bimtek ini mengajarkan praktik langsung dengan sistem INA‑CBGs?
Ya. Biasanya peserta akan dilatih menggunakan simulasi atau data dummy dalam sistem INA‑CBGs, sehingga mereka terbiasa dengan alur kerja klaim dari proses awal hingga pencairan.
Tingkatkan kemampuan tim Anda dalam koding diagnosis dan prosedur secara profesional, akurat, dan sesuai standar nasional – daftarkan segera untuk mengikuti Bimtek resmi bersama fasilitator bersertifikat.
